Aku lahir ke dunia ketika bulan lagi tidur.
Tidur bersama bintang-bintang di awan.
Menunggu mentari berlari mengejar malam.
Sekarang aku lagi tidur-tiduran di atas ayunan.
Yang kuikat di dinding terjal pegunungan.
Angin lembah yang bertiup membuatku terlelap.
Tangan kananku menggenggam sebuah jam antik.
Tangan kiriku memegang sebilah pedang.
Jam antik yang akan membangunkan aku dengan gema loncengnya.
Yang langsung mengetuk relung jiwa.
Jika aku terbangun.
Aku akan melangkah melewati tebing-tebing curam.
Pergi jauh mengembara dengan menggenggam pedang.
Yang kuasah pada embun pagi yang menempel di dedaunan kering.
Dengan pedang ini aku merasa berani menatap gerbang kematian.
Kematian yang merupakan tidur panjang.
Sebelum kematian memanggilku.
Kutorehkan mata pedang pada bebatuan rekah.
Kuukir puisi-puisi indah.
Yang syairnya akan menebar aroma kedamaian.
Sedamai matahari yang memeluk bumi dan rembulan yang mencumbui bintang-bintang.
Sebelum aku tidur di rahim bumi.
Tataplah mataku.
Ada lukisan laut yang berubah menjadi gunung.
Ketika tanganku sedang memainkan pedang.
Bongkahan batu di dasar hatiku mencair.
Cairannya akan kusiram untuk kasih yang ditebarkan di bumi.
Sebelum bumi tidur.
Sebelum matahari tidur.
Sebelum rembulan tidur bersama bintang.
Sebelum aku tidur di rahim bumi.
(Pangkalan Kerinci, Januari 2002)
GURITA SILONEMSONG (GURIndam kaTA 12,69) hadir lewat sebuah perenungan panjang. Bentuk dari aktualisasi diri serta imbas dari kemelut bhatin yang bergejolak. GURITA 12,69 adalah kreatifitas seni anak bangsa yang hadir lewat coretan², permainan kuas dan cat, serta berbelitnya syair, sajak dan puisi (roman & sastra). Semoga dengan kehadiran GURITA 12,69 bisa menambah bahan perenungan bagi kita terhadap realitas lingkungan. Terutama lingkungan seni, sastra dan budaya di negeri Khatulistiwa.
Senin, 18 Januari 2010
Minggu, 17 Januari 2010
TERBANG MENGEMBARA
Ada pertanda, lewat lambaian pucuk-pucuk kelapa.
Gesekannya terdengar riuh membahana.
Kilatan kilat terlihat sempurna.
Dengarlah.....dengarlah....gemuruhnya terdengar di genteng.
Menangislah...menangislah.
Ungkapkanlah kesedihanmu pada Sang Pencipta tatkala hujan memeluk bumi.
Setelah tangisanmu terhenti.
Sematkanlah Pin Burung Garuda di dada kananmu.
Terbanglah....terbanglah kemana kau suka.
Sebab engkau berhak menikmati kemerdekaan di Negaramu.
RIAU, (16/6/2003--4/11/2009)
RAKSASA ANGKARA MURKA
Mengingatkan pada cerita Legenda Nenek Gergasi.
Yang selalu di dongengkan oleh Bundaku ketika malam mencumbui rembulan.
Engkau merubah dirimu menjadi Raksasa Angkara Murka.
Sinar matamu mengisyaratkan kebencian yang mendalam.
Aku tahu, zaman telah merubahmu menjadi monster menakutkan.
Tekanan kehidupan yang membuat dirimu membenci kepura-puraan.
"Itu Munafik..!!!", katamu.
Lalu ketika semua orang turun kejalan.
Engkau ambil tongkat komando untuk melakukan Revolusi.
Engkau runtuhkan tembok kesombongan para Kapitalis yang telah menepikanmu.
Engkau bakar istana-istana emas yang di bangun dari pundi-pundi korupsi yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat negeri.
Engkau usung keranda Perlawanan Tirani.
Engkau teriakan slogan-slogan penuh bukti yang tentu saja bukan janji-janji.
Aku tahu niatmu suci.
Tapi yang kuminta darimu, "Janganlah menjadi Raksasa Angkara Murka".
"Jadilah Raja Adil bagi Negeri".
Di balik aksi sucimu, Kami selalu berada di belakangmu memberikan suntikan moralisasi agar jangan engkau malah berbalik menjadi "Raksasa Tanpa Peduli"
Riau, (20/9/2002--5/12/2009).
TELANJANGI KEPEDIHAN
Gelap yang temaram
Senandung ketidakmengertian
Kabut ketidaksadaran
Mahligai yang diidamkan
Hasrat yang terpendam
Kedigdayaan yang mumpuni
Tuhan yang menguji
Badai nestapa yang menggayut
Jerit Kepedihan
Tawa Kegalauan
Tawa itu terdengar seperti jerit kepiluan
Dan tangisan itu semakin menyayat relung hati
Pena tak lagi bisa menari
Pikiran terbius benda menyiksa
Terduduk dalam resah
Menggelepar tak berdaya
Tak mengerti mengapa terjadi
Kebingungan yang membeku
Kasih sayang kini berubah bersama perjalanan waktu yang lelah
Selaksa hati pedih
Airmata tak mampu menjawab arti apa yang terjadi
Tirai kerinduan terkoyak
Pelabuhan telah mengecil
Badai menghantam buritan
Kemudi patah kendali
Tak mampu menembus kabut menggapai kebahagiaan
Burung-burung terbang mengangkasa
Desah nafas mengepak sengau
Tikaman kehidupan bak panah menghujam hulu hati
Perih tak terperihkan
Pesona kembang seruni
Membutakan mata hati
Berjalan tertatih-tatih di balik resah yang membuncah
Menembus pekat malam disertai lambaian Selamat Tinggal
Nafsu menggelora dalam jiwa
Roh-roh yang tak terpuaskan
Mimpi-mimpi menakutkan tak lagi dihiraukan
Berlomba bersama detik waktu
Telanjangi Kepedihan
(Riau, 2003--2010)
REINKARNASI
Deburan ombak memercik dan membelai lembut sepasang kakiku yang terbungkus salju.
Kristal mataku menatap tajam kedalaman lautan yang penuh dengan gejolak.
Menembus batas ketidak mengertian.
Dengan gerakan pelan dalam kepastian.
Wajah resahku bergerak menatap halimun di angkasa yang mengambang.
Seekor camar laut menukik lalu menyambar seekor ikan.
Tunjukkan kebolehannya mengatasi kehidupan.
Kekaguman bersenandung dalam gelap hatiku.
Jasadku bergetar..................
Rohku terpaku...................
Lalu.............ragaku bermetamorfosa dan keajaiban terjadi.
Dari tubuh ringkihku keluarlah sepasang sayap lembut yang kokoh dan kaki lunglaiku berubah memiliki cakar yang indah.
Dan yang pasti aku akhirnya menjadi "Seekor Camar".
Aku akhirnya mencoba untuk mengepakkan sayap indahku.
Sejenak tubuh mungilku melambung.....naik....naik....tinggi....tinggi..... dan akhirnya terbang mengitari panorama lautan nan teduh.
Jiwa Camar telah aku miliki.
Aku terbang berpetualang melewati karang-karang kokoh, samudera yang membentang, dan menembus awan lembut yang membelai tubuhku.
Aku terbuai dalam damai.
Sendiri kuarungi perjalanan penuh makna kehidupan yang di bungkus bingkai waktu.
Ketika aku ingin menikmati kerimbunan belantara.....mencoba untuk lepas dari hamparan kesia-siaan.
Segerombolan pemburu liar lepaskan tembakan.
Pelurunya melesat bak halilintar menembus hulu hatiku.
Sejenak tubuhku menggelepar, dan akhirnya tubuh tercabikku lemah dan jatuh dihelaian daun-daun tua yang berserakan.
Sayup-sayup telingaku mendengar tawa penuh kemenangan dengan sukacita yang lantang terlepas dari rongga tenggorokan para pemburu kepuasan.
Menikmati kesenangan dan kebahagiaan disela tersengalnya nafasku.
Darah mengalir dari luka hatiku.
Membasahi sekujur tubuhku.
Yang terkapar dalam ketidak-berdayaan
Aku mencoba bertahan, serta berharap mukjizat menyelimuti kepiluanku.
Dan tak terasa kemudian tubuhku berubah wujud seperti semula.
Kini aku jadi manusia lagi yang akan menjalani siklus kehidupan dengan sebuah kata mujarab yang kupetik dari hati sang camar yang malang.
"No Problem".
Yogyakarta, ....................2000
Langganan:
Postingan (Atom)
OJO MENUO TANPO CERITO
Dunia itu luasssss Jenderal! Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito". Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...
-
Karya ©: M. Syari Faidar Lihatlah ada telaga di mataku Kalau belum engkau temukan air itu, coba lihat sekali lagi dengan hati yang bening...
-
Dunia itu luasssss Jenderal! Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito". Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...
-
Selepas dzuhur. Sepulang dari sekolah. Berangkat kami. Bersama-sama. Bergerombol. Laki-laki semua. Masing-masing bawa bekal nasi dari rumah....




