GURITA SILONEMSONG (GURIndam kaTA 12,69) hadir lewat sebuah perenungan panjang. Bentuk dari aktualisasi diri serta imbas dari kemelut bhatin yang bergejolak. GURITA 12,69 adalah kreatifitas seni anak bangsa yang hadir lewat coretan², permainan kuas dan cat, serta berbelitnya syair, sajak dan puisi (roman & sastra). Semoga dengan kehadiran GURITA 12,69 bisa menambah bahan perenungan bagi kita terhadap realitas lingkungan. Terutama lingkungan seni, sastra dan budaya di negeri Khatulistiwa.
Kamis, 30 April 2026
OJO MENUO TANPO CERITO
Jumat, 27 Maret 2026
PUNCAK RANAH TETAP ABADI
Engkau menyapaku dengan gesekan riuh
Menari dan bernyanyi dengan langgam mendayu
Gegap gempita bertalu-talu
Menyambut tetamu dari negeri berdebu
Aku tersenyum dalam derap sepatu
Menghujam tegap agar tak jatuh
Aku masih seperti dulu
Ketika aku masih lugu
Itu seribu tahun lalu
Di saat engkau masih diserbu dari berbagai penjuru
Gemericikmu tetap kurindu
Bening dingin banyu Samati Kiri yang pernah belai mukaku
Menghapus dan menyeka debu-debu
Di longsoran bebatu
'ku tahu itu bukan jalurmu dulu
Naluri alamku berbisik pilu
Ternyata longsoran itu menyingkat waktu
Aku bukan menteri
Juga bukan seorang bupati
Menebar pesona berbingkai janji
Menata negeri membangun destinasi
Meski tanjakku menjulang tinggi
Dirajut visi dan misi
Di Tanah Ranah
'ku untai kisah
Bersama resah hati para pemuda
Gelisah menatap jalan setapak tak terbenah
Mengarah kaki puncak ranah
Kutitahkan pada penghulu hati
Bersabarlah kalian menanti
Hingga jalurmu diperbaiki
Puncak Ranah 'kan tetap abadi
Rokan Hulu, 2 Juli 2019
Karya ©: M. Syari Faidar
Selasa, 24 Maret 2026
Entahlah, apakah bisa?
setiap makhluk insan lemah
pernah di suatu masa
ku urai kenaifanku
jujur tanpa hijab
terbuka tanpa sekat
setelah itu engkau berubah
mundur, menjauh
dan akhirnya menghilang
cintamu menguap
bagai gelembung busa
aku goyah
terombang ambing tanpa makna
dunia hampa
tatapan mata gelap gulita
tiga purnama mencari makna
sembilan belas purnama terjawab sudah
terurai resah dan gelisah
karena ternyata setiap makhluk insan lemah
tak ada lagi rasa cinta
ketika insan punya salah
naif memang sungguh naif
itulah fakta dan realita
hakikat jati diri manusia
mencari kalimah sempurna
ah sudahlah
di pagi ini coba hapus semua cerita
tapi entahlah, apakah bisa?
jika masih tersisa remah-remah
maklumi sajalah
bahwa setiap makhluk insan lemah
Ujung Batu, 24 Maret 2026
Karya ©: M. Syari Faidar
Jumat, 23 Januari 2026
Bangkok, Berdiri di Celah Candaan dan Kenyataan
Bangkok. Sering kami plesetkan dengan Bangkinang Kuok.
Sebuah kota kecil yang terletak di pinggiran sungai Kampar.
"Kamu nanti kalau udah besar mau jalan-jalan --traveling-- ke mana?" tanya temanku.
"Ke Bangkok. Bangkinang Kuok." ucapku.
Tentu saja diucapkan dengan sambil tertawa. Sering kota itu jadi candaan kami. Ternyata eh ternyata candaan itu benar-benar terwujud menapakkan kaki di Kota Bangkok yang sebenarnya. Candaan waktu kecil, terwujud berpuluh-puluh tahun kemudian. Amazing ternyata kata-kata yang diucapkan sambil bercanda bisa jadi kenyataan.
Kemarin berangkat dari Bandara Soekarno Hatta 3,5 jam di udara. Burung Besi mendarat dengan mulus di Bandara Don Mueang, Tailan. Bandara ini ternyata merupakan salah satu bandara yang tertua di dunia, lebih dari 100 tahun beroperasinya, sejak 1914.
Di pojok Madison Hotel terlihat beringin kecil tumbuh dingin.
Malam masih merambat pelan mengejar pagi. Lorong Madison terlihat sepi.
Saatnya untuk meluruskan pinggang sejenak. Sebab besok petualangan menyusuri sudut kota Bangkok akan di mulai.
Madison Hotel, Bangkok, Tailan. (23/1/2026)
Karya ©: M. Syari Faidar
Selasa, 20 Januari 2026
Ompang Sei Songsang Menggelitik Dunia
Genangan kenangan itu kembali terkuak. Menyeruak di balik semak. Fokus mata menatap percikan riak. Lamunan melintas ruang. Menderu, melayang melintas kecipak kenangan. Ompang Sei Songsang menggelitik duniaku. Dunia masa kecil bersama sahabat kecil menari-nari tersenyum sambil melambaikan tangan. Puluhan tahun lalu, serpihan waktu itu masih terpampang jelas. Berenang, menangkap udang, bermain air, lomba bernafas paling lama di perut air yang bening. Terjun dari pohon yang menjulai di tepian sungai. Ompang Sei Songsang telah menggelitik duniaku, dunia masa kecilku.
Hari sudah sepenggalan. Matahari mulai menaikan kadar panasnya. Bersamamu kita menapak di titian kayu. Di sepanjang langkah terlihat ribuan enceng gondok menyapa kita. Mereka beraubade sambil meneriakan ucapan, 'Selamat datang di Ompang Sei Songsang wahai Sang Petualang". Aku dengar ucapan itu dihela nafasku. Sebagai mercusuar di lain waktu kita abadikan momen itu. Kita saling bergandengan tangan. Mengukir harapan dibalik tabir kehidupan. Menyongsong hari baru penuh pendar semangat anyar diderap langkah sisa waktu.
Tempat biasa tatkala disentuh oleh tangan penuh cinta akan menjadi surga berpendar asa. Aku lihat dan rasakan geliat itu pada hamparan semangatmu kawan. Teruslah ukir prestasi di balik negeri yang penuh misteri ini wahai pewaris negeri. Tanah peradaban harus diurus serius. Hingga mampu menggugah nurani yang beku dari geliat pariwisata berkemajuan. Pancangkan tekad membangun negeri pada puncak destinasi. Kibarkan bendera dan panji sambil menghirup sensasi kopi literasi. Saudaraku tak ada kekuatan tanpa kebersamaan. Biarkan tangan-tangan tak kelihatan merangkul dan menuntunmu merubah dunia.
(***)
Karya ©: M. Syari Faidar
Cerpen tiga paragraf (Pentigraf) ini sudah terbit di website Cakrawalaindonesia.id, Rabu, (6/1/2021).
Senin, 19 Januari 2026
SYAIR PARA PENDOSA
Karya ©: M. Syari Faidar
Karena diriku bukanlah insan sempurna, teramat jauh dari Manusia 1/2 Dewa. Maka oleh karena itu menghindari dan membenciku bukanlah dosa.
Aku bukanlah saudagar kaya batu permata, juga bukan prajurit gagah bertopi baja.
Aku hanyalah seorang pendosa yang pernah terjerembab dalam lingkaran narkoba. Aku bukanlah pendosa yang pernah membunuh nyawa! Atau bahkan memperkosa wanita dalam birahi senja. Aku hanya para pendosa yang memasukkan berliter-liter air nira dan air soda dalam lambung dan rongga dada.
Karena Tuhan Tidak Buta, membenciku bukanlah dosa. Terimakasih pernah berbagi cerita dan derai tawa.
Menghilangkan bahkan membunuhku dengan 'AK47 atau bayonet sewa' bukanlah dosa.
Syair ini tergubah bagi para pendosa yang resah di ujung asa. Semoga malam maafkan kita semua hingga kembali menjadi fitrah.
Riau, 17 Desember 2014
BERJUANG (versus) BERUANG
Selintas beberapa jenak yang lalu terbaca status di beranda salah seorang sahabat FB.
Bunyi statusnya itu begini; "YANG BERJUANG AKAN KALAH DENGAN YANG BERUANG".
Degh.... statusnya teramat sangat bikin nelangsa dan miris.
Sepersekian detik kemudian lamunanku tersentak, hasratku meronta sambil cegukan --penyakit manja yang diderita 2 hari ini-- dan dengan lantang berteriak sekuat-kuatnya dalam hati, "TIDAKKKKK!!!!".
Jleb..... bohlam lampu pun mati.
Selesai.
Karya ©: M.Syari Faidar
Rokan Hulu, (22/11/2021)
Minggu, 18 Januari 2026
CINTA, KERINDUAN (&) HARGA MATI
Karya ©: M. Syari Faidar
Sendiri itu sunyi, sendiri itu sepi.
Lagi-lagi kembali raga mengalami, berkali-kali.
Meski entah sampai kapan, kerinduan hati ini akan terjawab.
Penuh teka-teki, sarat muatan misteri.
Dua depa di tenggara khatulistiwa, dua kuntum puspa cempaka masih tetap terpisah.
Saling terdiam meski bernara pada akar nan sama.
Angin akhir Oktober membuat enam tangkai aglonema bergoyang menari, tersirat mengirim pesan; Cinta yang hakiki selalu menciptakan kerinduan, itu harga mati.
Ujungbatu, (24/10/2021)
Jumat, 16 Januari 2026
DIRGAHAYU RIAU
Kemarin tepat 62 tahun
Usia yang mapan
Dalam balutan songket keemasan
Menjunjung tanjak bersulam benang hijau
Negeri bermartabat
Daulat Raja disembah
Di pelosok peradaban suku pedalaman
Gumpalan kabut menggumpal
Melilit lirikan mata dan bangir hidung
Di jantung perkotaan
Asap memeluk pohon beton
Fly over Sudirman tercekat
Semaput dikecup punak dan resam
Di sebuah kubus bata berjarak seratus enam puluh dua koma lima kilometer dari Tugu Zapin
Pukul 7 post meridiem
Pasukan kabut diserang serdadu air langit
Lenyap
Dingin kasur dibelai sayang
Dalam lantunan sendu
Bisikan syair pilu
Semoga tak ada nyawa keracunan karbon monoksida
Terhirup asap bukan dari pembakaran tembakau impor
Di meja kopi
Pahat ukiran di tekstur kayu nibung
Dirgahayu Riau
Rokan Hulu, (10 Agustus 2019)
Karya © : M. Syari Faidar
Rabu, 14 Januari 2026
Sekuntum Mawar Putih di Mulut Gang (Part-2)
Arifa terlihat rapi, klimis dan wangi. Sehabis mandi, rambutnya yang gondrong sepinggang sudah dikucir. Di langit terlihat rembulan tersenyum semringah kepadanya. Suasana terlihat cerah. Arifa berjalan perlahan di gang yang di kiri kanannya berjejer kos-kosan mahasiswa.
Meski cuaca cerah bersahabat, sebenarnya Arifa sedang dirundung kebingungan. Sebab Arifa pernah berjanji menyanggupi untuk membawakan sekuntum bunga edelweiss yang di minta oleh Dayani. Permintaan itu di utarakan sebelum Arifa melakukan pendakian ke puncak Gunung Sindoro yang berujung gagal.
Arifa sedang berpikir dan berupaya keras mencari alasan sehingga Dayani tidak merajuk karena dirinya tidak bisa mengabulkan permintaan untuk memetik bunga edelweiss. Walaupun sebenarnya ketika hampir mendekati Puncak Sindoro, Arifa sempat melihat beberapa kuntum edelweiss yang mekar indah tersenyum melambai-lambai ingin di petik olehnya. Arifa justru malah teringat pesan mutiara di buku para pendaki yang pernah dibacanya: jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan membunuh apapun kecuali waktu dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak kaki.
Arifa masih terus berpikir dalam kebingungan. Sejenak langkah kaki Arifa terhenti di mulut gang. Ia melihat benda putih bergoyang-goyang pelan dibelai silir angin malam. Tepat di mulut gang Arifa melihat sekuntum mawar putih yang lagi merekah.
Sontak Arifa menemukan cara untuk meluluhkan Dayani. Arifa memetik mawar itu dan ia akan mengatakan bahwa Bunga Mawar itu dipetik di kaki gunung Sindoro. Kemudian mawar itu lalu dimasukan ke botol air mineral agar jangan layu di perjalanan ketika naik di kendaraan. Dalam hati Arifa berharap jurus itu mampu meyakinkan Dayani.
“Bunga Mawar ini ku petik dari kaki gunung Sindoro.” ujar Arifa sambil menyerahkannya kepada Dayani.
Dayani terlihat semringah, Arifa jumawah.
Dari speaker radio di kamar Dayani, terdengar syahdu tembang Sheila on Seven: Dannnnn……bukan inginkuuuuuu….. melukaimuuuuu…. Sadarkah kau di sini ku pun terlukaaaa…..
Dayani mengambil gelas kaca. Mengisinya dengan air dan langsung memasukkan bunga mawar yang telah diserahkan oleh Arifa ke dalamnya. Gelas itu telah berubah fungsi menjadi vas bunga.
Dayani terlihat begitu bahagia. Arifa tertegun dalam salah.
***
Sabtu malam Dayani dan Arifa terlihat berjalan bergandengan tangan di jalan Sorosutan. Arifa dan Dayani lalu naik andong menuju jantung keramaian Malioboro. Terlihat jemari Arifa terus menggenggam jemari Dayani. Begitu romantis sekali dua sejoli itu. Pasangan yang sedang kasmaran.
Di pusat perbelanjaan Arifa mengajak Dayani masuk ke sebuah toko. Di toko itu Arifa tertarik dengan kotak musik yang dipajang di etalase. Ia membeli kotak musik itu dari uang tabungannya. Ia beli dan dihadiahkan untuk Dayani.
Sambil menyerahkan kotak musik itu Arifa berkata, “Seandainya kita bukan pasangan yang diridhoi oleh Sang Pencipta, saya berharap simpan saja kotak musik ini dan jaga baik-baik.”
“Kenapa ngomong begitu?” tanya Dayani.
“Jodoh, Maut dan Rezeki kita tidak tahu kapan datangnya, yang jelas kita berikhtiar saja,” ungkap Arifa.
“Di sini di jantung kota ini kutegaskan bahwa aku sangat menyayangimu, suatu saat nanti aku akan kembali ke Jogja sekedar mengingat kenangan bersamamu karena memang Jogja terbuat dari untaian rindu.” gumamku dalam hati.
***
Di Stasiun Tugu Yogyakarta terlihat Dayani menenteng tas. Sementara itu tepat di sebelahnya terlihat Arifa mengangkat beban yang berisi bawaan Dayani. Dayani akan pulang ke Jakarta karena kuliahnya telah selesai. Terlihat sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam. Sibuk dengan perasaan masing-masing yang berkecamuk. Seakan tak rela akan perpisahan itu, meskipun cuma sementara.
Ketika kereta api tujuan Jakarta akan berangkat Arifa melambaikan dua jarinya kepada Dayani. Dayani tersenyum. Kereta api semakin menjauh dan akhirnya hilang dari pandangan Arifa.
Sebelum ke Stasiun Tugu mereka sengaja berhenti di depan Istana Negara Jogjakarta yang tepat di seberangnya berdiri gagah benteng Vredeburg. Sambil bergandengan tangan mereka terus berjalan mesra di sepanjang pelataran Malioboro. Terlihat ratusan pedagang kaki lima berjejer menggelar dagangannya di sepanjang jalanan Malioboro.
Ternyata Stasiun Tugu dan Malioboro jadi saksi bahwa kebersamaan antara Arifa dan Dayani merupakan pertemuan mereka yang terakhir. Di Jakarta Dayani disibukan oleh aktivitasnya mencari pekerjaan. Sementara itu Arifa semakin menyibukan diri dengan kegiatan petualangannya. Rindu mereka akhirnya menguap di Kerajaan Awan. Pecah bagai gelembung busa. Lenyap tak berbekas.
(**Tamat**)
Karya ©: M. Syari Faidar
*Penulis merupakan seorang Jurnalis, Penyuka Syair, Adventurer dan Photography.
*Cerpen ini sudah tayang di media online Cakrawalaindonesia.id (15/04/2021)
Selasa, 13 Januari 2026
RUMUS MEMBUKA GEMBOK TERKUNCI
Guna membuka gembok yang terkunci dibutuhkan tekanan dan putaran oleh pasangan kunci yang tentu saja klop. Itu rumusnya.
Apa makna tersirat?
Hanya makhluk berpikir yang bisa menjawabnya.
Suatu masalah dalam kehidupan ini akan mengurai jika ada upaya serius untuk keluar dari tekanan.
Timbul pertanyaan, "Mengapa harus serius?"
Sebab jikalau tiada daya upaya terbebas dari tekanan, tentu saja tak akan ada aksi atau gerakan melakukan perubahan.
"Sesederhana itu?"
Memang konsep dasarnya teramat sangat sederhana, namun penerapan disiplin ilmunya memerlukan langkah yang butuh energi spektakuler super luar biasa.
Begitulah dahsyatnya suatu aksi gerakan memberangus kemapanan.
Tugas utama: hancurkan stigma dan dogma negatif perilaku manusia² otoritarian yang tiada henti menyebar racun pemikiran.
Sebagai warga negara yang dijamin kebebasan berekspresi oleh konstitusi mari berpartisipasi positif memberikan kontribusi menuju Indonesia Emas 2045.
Suka Damai, Ahad (2/7/2023)
Minggu, 11 Januari 2026
KELAS FILSAFAT
Kalau engkau tidak tahu, idealnya engkau harus belajar agar menjadi tahu. Jangan malah menghumbar cela memaki salah, hingga akhirnya mengebiri aktualisasi berkarya.
Hidup ini bukan cuma sekedar kemesraan di atas kasur, juga bukan bisikan kata-kata puitis serta puji-pujian keagungan cinta di telinga.
Hidup itu universal. Buka sumbat katup cakrawala berpikirmu. Bentangkan sajadah ketidaktahuan dengan mengosongkan gelas pikiranmu. Aku tunggu penuhnya gelas berpikirmu di menara gading. Cepat!!!, sebab aku sudah sekarat.
Uang bukanlah muara dari lautan kehidupan. Hidup lebih bernilai harga daripada nilai uang. Hakikat kehidupan itulah yang pantas diuangkan.
Apa sih hebatnya hebat?
Apa sih salahnya salah?
Apa sih kuatnya kuat?
Apa sih lemahnya lemah?
Nampaknya engkau mesti belajar di kelas Filsafat Ilmu agar engkau tahu hakikat proses membangun peradaban. Aku juga masih akan terus belajar sampai teori teka-teki keagungan hidup lebih mulia dibanding memuja uang terpecahkan.
Apa sih hebatnya hebat?
Apa sih salahnya salah?
Apa sih kuatnya kuat?
Apa sih lemahnya lemah?
Riau, (24/9/2019)
BERHARAP MUKJIZAT
Pembacaan sajak yang berjudul "Berharap Mukjizat" bersama My Junior.
Momen keakraban ini terasa terlalu indah, dan teramat sayang buat dilupakan.
Peristiwa ini merupakan proses belajar transformasi ilmu dan menggali bakat membaca sajak/puisi antara seorang Ayah dengan Anaknya.
Video ini sudah tayang, (26/9/2019) di kanal Youtube SYAIR FAIDAR (@syairfaidar05)
Selasa, 06 Januari 2026
Sekuntum Mawar Putih di Mulut Gang (Part-1)
Pojok Bursa Efek Jakarta yang terletak di sudut Kampus Ungu Biru Yogyakarta jadi tempat favorit bagi Arifa dalam beberapa hari terakhir. Berbagai buku dan semua informasi terkait pergerakan harga saham dan pasar modal dilahap guna menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah Analisis Pasar Modal.
Arifa didaulat menjadi Ketua Kelompok oleh teman-temannya untuk menggarap tugas kelompok yang telah diberikan oleh pak Agastya. Merasa memiliki tanggungjawab yang telah diamanahkan dipundaknya, Arifa menyibukkan diri merangkum dan menggali semua referensi yang ada, sehingga tugas kelompok itu nantinya bisa diselesaikan tepat waktu.
Arifa, merupakan mahasiswa perantau dari pulau seberang Jawa yang bergabung sebagai anggota di kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam di Kampus Ungu Biru.
Sudah menjadi salah satu persyaratan di organisasi yang berkecimpung di alam bebas tersebut, bahwa setiap Anggota Muda wajib menyelesaikan tugas pendakian individu dengan syarat harus mendaki dua gunung lengkap dengan catatan laporan perjalanan pendakian serta nantinya dipresentasikan di hadapan para senior.
Pendakian individu merupakan salah satu persyaratan wajib bagi semua Anggota Muda agar nantinya bisa dilantik menjadi Anggota Biasa.
Merasa dikejar oleh deadline tugas kelompok mata kuliah Analisis Pasar Modal dan persiapan pendakian ke salah satu Gunung, Arifa terlihat berjalan terburu-buru.
“Brakkkk….!!!” Sejumlah buku dan diktat berserakan di lantai kampus.
Seperti memiliki magnet semua mata tertuju ke pusat suara. Bak drama di sinetron terlihat seorang mahasiswa dan mahasiswi bertabrakan.
“Maaf, saya enggak sengaja menabrak mbak,” ungkap Arifa sembari mengumpulkan buku-buku dan diktat yang berserakan di lantai kampus dan menyerahkannya ke mahasiswi yang terlihat masih berdiri tertegun.
“Sekali lagi saya minta maaf mbak, saya lagi terburu-buru,” ulang Arifa dengan mimik serius dan tulus meminta maaf karena ketidaksengajaannya itu.
“Iya tidak apa-apa.” jawab si mahasiswi secara singkat padat dan jelas.
Dayani merupakan mahasiswi tingkat akhir di Kampus Ungu Biru, karena itu tentu saja jadwal perkuliahannya menjadi tidak begitu padat lagi dibandingkan dengan semester-semester sebelumnya.
Pagi itu Dayani bosan berada di kos-kosan dan berniat ingin ke perpustakaan kampus yang tepat bersebelahan dengan Pojok Bursa Efek. Niatnya ke perpustakaan sekedar ingin membaca majalah atau mungkin bisa berjumpa dengan teman-teman sekelasnya.
***
“Fa, tunggu” teriak Lupus memanggil Arifa.
Merasa ada yang memanggil namanya seketika Arifa menghentikan langkah kakinya, serta berusaha mencari sumber suara. Di ujung kampus terlihat Lupus melambaikan tangan kepada Arifa.
Setelah Lupus berada di dekatnya Arifa langsung bertanya, “Ada apa Pus? Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan?”.
“Kamu dapat salam dari Dayani,” tegas Lupus kepada Arifa.
Sontak Arifa mengeryitkan dahinya sambil bergumam.
“Dayani? Sepertinya aku tidak pernah mengenal nama itu?” ujar Arifa sambil bertanya kepada Lupus.
“Itu lho mahasiswi tempo hari yang kamu tabrak di teras Pojok Bursa Efek” terang Lupus kepada Arifa.
“Dia kakak kelas kita, tinggal menyusun tugas akhir dan di wisuda,” urai Lupus kepada Arifa.
“Oke, kalau bertemu lagi dengan cewek itu sampaikan salamnya sudah aku terima,” ucap Arifa kalem.
“Namanya Dayani,” ulang Lupus menyebutkan nama mahasiswi semester akhir itu.
“Iya, Dayani… Eh, aku tinggal dulu ya, ada tugas kuliah yang harus diselesaikan nih,” ucap Arifa sambil berlalu meninggalkan Lupus.
***
Perkebunan teh terlihat terhampar hijau membentang. Di sepanjang perjalanan sejauh mata memandang hamparan hijau itu tampak begitu indah di jalur pendakian Kledung Gunung Sindoro. Dari kejauhan tampak sekelompok pendaki, berjalan kaki sambil bersenda gurau.
Cuaca sedikit cerah, meskipun di beberapa tempat terlihat ada gumpalan awan hitam. Cuaca di gunung memang sulit di prediksi, kadang berkabut dan terkadang cerah. Sehingga para pendaki diwajibkan mempersiapkan peralatan pendakian seperti ringcoat atau jas hujan guna mengantisipasi jika sewaktu-waktu hujan turun secara tiba-tiba.
Arifa sesekali terlihat membetulkan tali carrier-nya. Dia berjalan di belakang teman-temannya. Sambil melihat ke arah puncak, Arifa terus melangkahkan kaki setapak demi setapak di jalur pendakian yang semakin lama semakin curam dan berbatu.
Arifa berfirasat bahwa hujan akan turun sebelum rombongan pendakian sampai ke puncak Gunung Sindoro. Arifa mengutarakan prediksi tersebut kepada teman-temannya untuk mencari tempat beristirahat serta mendirikan tenda, dan pendakian dilanjutkan pada esok hari saja. Selain guna menjaga stamina Arifa juga mendengar ada keluhan dari salah seorang anggota rombongan yang mengaku sudah kelelahan.
Ketika Arifa mengutarakan maksud tersebut sebagian anggota rombongan setuju dan sebagian lagi menolak. Terjadi perdebatan yang cukup alot. Tidak ada kata sepakat. Semua bersikukuh dengan pendapatnya masing-masing.
“Tinggal sedikit lagi kita sampai di Puncak, setelah itu kita turun dan mendirikan tenda untuk bermalam, sudah tanggung ini…” kata Tino.
“Puncak memang sudah dekat, tapi kita juga harus memikirkan kondisi anggota rombongan, karena kita satu tim,” terang Arifa memberikan penjelasan kepada Tino dan teman-temannya yang tidak sepakat untuk bermalam dan mendirikan tenda.
“Masa jalur pendakian yang segini saja kita sudah keok, ayo dong tinggal sedikit lagi kita sudah sampai di puncak!!! Setelah ambil dokumentasi untuk laporan lalu kita turun,” ujar Tino bersikeras dan ngotot.
“Iya, tapi lihat itu kondisi Sito sudah kecapean, takutnya nanti kalau dipaksakan bisa kena hypothermia yang bakal kerepotan kita juga,” teriak Arifa sambil mengeraskan volume suaranya disela angin kencang dan kabut yang kian pekat membuat jarak pandang hanya berkisar 2 meteran saja.
Karena tidak didapatkannya kata sepakat, akhirnya team setuju untuk melaksanakan proses demokratisasi dengan sistem voting. Setelah dilakukan proses voting yang hasilnya malah memutuskan bahwa team tetap meneruskan perjalanan meskipun dalam cuaca yang sudah tidak bersahabat. Keputusan yang keliru. Meskipun puncak Gunung Sindoro sudah dekat dan tak berapa jauh lagi.
Rombongan akhirnya meneruskan perjalanan dalam badai yang kian lama semakin kencang. Cuaca sangat tidak bersahabat. Jalanan semakin licin karena hujan terus mengguyur tiada henti. Berkali-kali anggota rombongan ada yang terpeleset jatuh akibat jalanan semakin licin.
Akhirnya brukkkk….!!! Sito tumbang terkapar di tanjakan yang semakin curam. Beruntung masih dapat ditahan. Sito pingsan. Rombongan panik, antara meneruskan perjalanan atau turun kembali.
Akhirnya Sito digotong dengan mengunakan tandu darurat yang dibuat oleh teman-temannya untuk kembali menuju posko Kebun Teh. Pendakian menuju puncak Gunung Sindoro gagal total.
(...Bersambung)
***
Penulis: M. Syari Faidar
* Penulis merupakan Jurnalis, Penyuka Syair, Adventurer dan Photography.
* Cerpen ini sudah tayang di media online Cakrawalaindonesia.id (14/04/2021)
Senin, 05 Januari 2026
MENGENANG SUNGAI SUNGSANG
Mengenang Sungai Sungsang
Selepas dzuhur. Sepulang dari sekolah. Berangkat kami. Bersama-sama. Bergerombol. Laki-laki semua.
Masing-masing bawa bekal nasi dari rumah. Bersenda gurau sepanjang jalan. Yang pandai melucu, melawaklah ia. Senang hati. Tertawa-tawa. Bergembira.
Jalan mulai mendaki. Banyak pohon pinus. Pohon kalimunting juga. Berebut kami berlari untuk memetiknya. Buahnya hitam merah. Ranum-ranum. Siapa cepat dia dapat. Masukan ke dalam saku. Bagi yang membawa persiapan dari rumah dimasukannya ke kantong plastik. Di simpannya.
Jalan mulai agak sedikit mendatar. Pemandangan kota mulai nampak dari jauh. Berjalan sedikit. Sampailah di Komplek Perkantoran. Tempat orang mengurus surat menyurat. Serta persoalan daerah.
Melewati jendela nako ruang kantor. Ada kawan ribut-ribut. Rupanya mereka berebut. Sekali di tengok, ternyata kaca nako berdebu diperebutkan. Melukis, menggambar, menulis mereka sesuka hati. Apa yang terasa di hati coretnya. Pakai jari tangan. Ada juga pakai puntung rokok. Lucu melihatnya.
Melewati komplek perkantoran. Jalan mulai menurun. Jalan tanah. Mulai lagi berebut buah kalimunting. Sambil tertawa-tawa. Girang sekali bagi yang dapat buahnya hitam merah. Ranum.
Suara gemericik air mulai terdengar telinga. Baju sudah ada yang mulai dibuka. Di selempang di pundak. Bahkan ada yang sudah mulai membuka celana. Berkolor saja. Berlari-lari kecil.
Byurrrrr. Terjun ke sungai sungsang. Baju celana dan perbekalan sudah diletakkan terlebih dahulu di tanah.
Berebut juga buyung-buyung bertelanjang dada terjun ke sungai. Ramai suaranya. Bagi yang pandai bersalto di udara. Bersaltolah dia. Ada juga yang terjun gaya suka-suka. Yang penting mandi. Berenang kian kemari. Menyelam. Timbul lagi. Kecipak kecipuk bunyi riuh air dibuatnya.
Ada juga kerjanya menangkap udang yang sembunyi di balik lumut hijau. Pakai tangan saja. Setelah dapat, lalu di bakar. Enak gurih rasanya di lidah.
Mandi berenang di sungai sungsang. Bangkinang. Takkan hilang selalu terkenang. Terbayang. Berenang. Bersenang. Lalu pulang.
***
Di tulis di: Ujungbatu, 31/8/2019
Karya ©: M Syari Faidar
* Di tulis sebagai mengingat kembali tepian mandi waktu kecil bersama sahabat-sahabat yang sudah terpisah jarak dan waktu oleh geliat kehidupan.
* Karya ini sudah tayang di media online Cakrawalaindonesia.id (18/10/2020)
* Karya ini sudah tayang versi video di kanal YouTube SYAIR FAIDAR https://youtu.be/L0ded1r7xzQ
Minggu, 04 Januari 2026
Mawar Putih di Mulut Gang
Karya ©: M. Syari Faidar
Ku petik dirimu.
Ku timang digenggaman.
Ku bawa melintas malam.
Malam purnama dipeluk keindahan.
Ini bukan cerita anggur atau rembulan.
Ini hikayat merajut serpihan berserakan di Lowanu Sorosutan.
Yang terkubur di ceruk selaksa kenangan.
Hari itu dua puluh tahun lalu dia meminta sekuntum edelweiss.
Bunga keabadian yang menari dibelai angin Puncak Sindoro.
Aku sanggupi.
Meskipun sekedar janji.
Di mulut gang dekat tikungan kulihat dirimu.
Putih bercahaya bersih.
Ku petik dirimu.
Ku timang di genggaman.
Ku bawa melintas malam.
Membawa bukti tunaikan janji untuk ditepati.
Aku serahkan dirimu kepadanya sambil berkata, "Mawar putih ini kupetik di gunung Sindoro."
"Di musim purnama edelweiss tak lagi berbunga," tegasku dalam dusta.
Dia tersenyum bahagia, aku jumawa.
Engkau diletakkan dalam gelas kaca.
Di iringi lantunan tembang syahdu Katon Bagaskara dari kotak musik dekat jendela.
Dalam diam hatiku bergumam, "maaf aku telah membohonginya."
Kode Etik petualang itu tak mungkin aku kangkangi.
"Jangan mengambil apapun kecuali gambar."
"Jangan meninggalkan apapun kecuali tapak kaki."
"Jangan membunuh apapun kecuali waktu."
***
Riau, 17 Oktober 2020
* Karya ini sudah terbit di media online Cakrawalaindonesia.id (17/10/2020)
Sabtu, 03 Januari 2026
MENANTI BUAH HATI
Tema: Proses Kelahiran
Judul: MENANTI BUAH HATI
Genre: Prosa Liris
Penulis: M Syari Faidar
Seperangkat peralatan bayi sudah dipersiapkan. Kain bedung, bedak wangi, baskom mandi, sabun bayi beserta handuk, semua sudah komplit.
Ibu berjalan bolak balik, mondar mandir dengan perut buncitnya. Sang Ayah terlihat gelisah. Beberapa sanak saudara mara terlihat menggelar tikar pandan ditemani wedang kopi dan cemilan lainnya di selasar rumah sakit.
Dokter kandungan beserta para bidan persalinan terlihat mempersiapkan peralatan melahirkan. Semua peran dimainkan, sesuai dengan keahlian.
Waktu bergerak terasa lamban. Suasana hening. Menunggu memang merupakan hal membosankan, tetapi tidak bisa dihindarkan. Proses alamiah kehidupan.
Di seberang selasar ada orang berkumpul. Terdengar tangisan pilu, meraung-raung. Sejenak jadi pusat perhatian, ada apa gerangan. Ternyata istri seorang tukang becak dayung telah meninggal. Kanker payudara stadium empat telah merenggut nyawanya. Dia telah berpulang.
Dokter kandungan melalui kepala bidan memanggil. Ayah datang, pembicaraan serius terlihat dari balik ranting mahoni yang menjulur ke bumi. Gerak tangan mereka terlihat silih berganti menari di depan dada, terkadang meluncur ke udara, sesekali menunjuk perut.
Ayah berbalik arah, menuju kumpulan saudara mara. Pesan berantai disampaikan. Berdasarkan analisa dan pengamatan terukur dari pengalaman menyambut kelahiran ratusan bayi di kasur. Dokter menyebutkan besok ketuban baru pecah. Kelahiran buah hati hari ini di tunda.
Ujungbatu, 09 September 2019
*************************************
* Prosa Liris ini dibuat ketika mengikuti event ubah nama ASA <> JAJ 2019 yang diselenggarakan oleh Jejak Aksara Jiwa (JAJ) pada tanggal 05-15 September 2019.
* Prosa liris ini sudah tayang di media online Cakrawalaindonesia.id (22/09/2020)
Kamis, 01 Januari 2026
OJO MENUO TANPO CERITO
Dunia itu luasssss Jenderal! Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito". Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...
-
Karya ©: M. Syari Faidar Lihatlah ada telaga di mataku Kalau belum engkau temukan air itu, coba lihat sekali lagi dengan hati yang bening...
-
Dunia itu luasssss Jenderal! Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito". Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...
-
Selepas dzuhur. Sepulang dari sekolah. Berangkat kami. Bersama-sama. Bergerombol. Laki-laki semua. Masing-masing bawa bekal nasi dari rumah....





%20BERUANG.jpg)





.jpg)


