Kamis, 30 April 2026

OJO MENUO TANPO CERITO



Dunia itu luasssss Jenderal! 
Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito". 

Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² takutnya entar ada yang baperan. 
Malah ujung-ujungnya nanti banting android saking keselnya, kan gak lucu! 

Nyosmed kok baperan njiiiir, agak "leon" memang derita hati dan tabiat sebagian netizen negeri konoha bin wakanda bin +62. 
Tapi mau gimana lagi, itu lah keanekaragaman hayati makhluk bumi. 
Maklumin aja dah!

Sekali lagi; "ojo menuo tanpo cerito".

Oh iya, kalo lagi baperan, booring atau lagi gak enakan hati, disaranin buat pantengin akun Tekotok Tekotok Animasi pikiranmu nanti bisa traveling liar hingga ke mancanegara. 

Atau lagi pengen update berita terkini di nusantara guna memperluas cakrawala berpikir anda, pantengin aja portal CAKRAWALAINDONESIA.id CakrawalaIndonesia 

#NgetemAjaDulu #OjoMenuoTanpoCerito #CakrawalaIndonesia

Grand Galaxy City, 10 Maret 2025

Jumat, 27 Maret 2026

PUNCAK RANAH TETAP ABADI


Engkau menyapaku dengan gesekan riuh

Menari dan bernyanyi dengan langgam mendayu

Gegap gempita bertalu-talu

Menyambut tetamu dari negeri berdebu


Aku tersenyum dalam derap sepatu

Menghujam tegap agar tak jatuh

Aku masih seperti dulu

Ketika aku masih lugu 

Itu seribu tahun lalu 

Di saat engkau masih diserbu dari berbagai penjuru


Gemericikmu tetap kurindu

Bening dingin banyu Samati Kiri yang pernah belai mukaku 

Menghapus dan menyeka debu-debu


Di longsoran bebatu

'ku tahu itu bukan jalurmu dulu

Naluri alamku berbisik pilu

Ternyata longsoran itu menyingkat waktu


Aku bukan menteri 

Juga bukan seorang bupati

Menebar pesona berbingkai janji

Menata negeri membangun destinasi

Meski tanjakku menjulang tinggi

Dirajut visi dan misi


Di Tanah Ranah

'ku untai kisah

Bersama resah hati para pemuda 

Gelisah menatap jalan setapak tak terbenah 

Mengarah kaki puncak ranah 

Kutitahkan pada penghulu hati

Bersabarlah kalian menanti

Hingga jalurmu diperbaiki

Puncak Ranah 'kan tetap abadi


Rokan Hulu, 2 Juli 2019

Karya ©: M. Syari Faidar

Selasa, 24 Maret 2026

Entahlah, apakah bisa?


setiap makhluk insan lemah

pernah di suatu masa 

ku urai kenaifanku

jujur tanpa hijab

terbuka tanpa sekat


setelah itu engkau berubah

mundur, menjauh 

dan akhirnya menghilang 

cintamu menguap

bagai gelembung busa 


aku goyah 

terombang ambing tanpa makna

dunia hampa 

tatapan mata gelap gulita 

tiga purnama mencari makna 

sembilan belas purnama terjawab sudah

terurai resah dan gelisah

karena ternyata setiap makhluk insan lemah 


tak ada lagi rasa cinta

ketika insan punya salah

naif memang sungguh naif

itulah fakta dan realita 

hakikat jati diri manusia 

mencari kalimah sempurna


ah sudahlah 

di pagi ini coba hapus semua cerita

tapi entahlah, apakah bisa? 

jika masih tersisa remah-remah 

maklumi sajalah 

bahwa setiap makhluk insan lemah


Ujung Batu, 24 Maret 2026

Karya ©: M. Syari Faidar







Jumat, 23 Januari 2026

Bangkok, Berdiri di Celah Candaan dan Kenyataan


Bangkok. Sering kami plesetkan dengan Bangkinang Kuok. 

Sebuah kota kecil yang terletak di pinggiran sungai Kampar.

"Kamu nanti kalau udah besar mau jalan-jalan --traveling-- ke mana?" tanya temanku. 

"Ke Bangkok. Bangkinang Kuok." ucapku.

Tentu saja diucapkan dengan sambil tertawa. Sering kota itu jadi candaan kami. Ternyata eh ternyata candaan itu benar-benar terwujud menapakkan kaki di Kota Bangkok yang sebenarnya. Candaan waktu kecil, terwujud berpuluh-puluh tahun kemudian. Amazing ternyata kata-kata yang diucapkan sambil bercanda bisa jadi kenyataan.

Kemarin berangkat dari Bandara Soekarno Hatta 3,5 jam di udara. Burung Besi mendarat dengan mulus di Bandara Don Mueang, Tailan. Bandara ini ternyata merupakan salah satu bandara yang tertua di dunia, lebih dari 100 tahun beroperasinya, sejak 1914. 

Di pojok Madison Hotel terlihat beringin kecil tumbuh dingin. 

Malam masih merambat pelan mengejar pagi. Lorong Madison terlihat sepi. 

Saatnya untuk meluruskan pinggang sejenak. Sebab besok petualangan menyusuri sudut kota Bangkok akan di mulai. 

Madison Hotel, Bangkok, Tailan. (23/1/2026)

Karya ©: M. Syari Faidar

Selasa, 20 Januari 2026

Ompang Sei Songsang Menggelitik Dunia


Genangan kenangan itu kembali terkuak. Menyeruak di balik semak. Fokus mata menatap percikan riak. Lamunan melintas ruang. Menderu, melayang melintas kecipak kenangan. Ompang Sei Songsang menggelitik duniaku. Dunia masa kecil bersama sahabat kecil menari-nari tersenyum sambil melambaikan tangan. Puluhan tahun lalu, serpihan waktu itu masih terpampang jelas. Berenang, menangkap udang, bermain air, lomba bernafas paling lama di perut air yang bening. Terjun dari pohon yang menjulai di tepian sungai. Ompang Sei Songsang telah menggelitik duniaku, dunia masa kecilku.

Hari sudah sepenggalan. Matahari mulai menaikan kadar panasnya. Bersamamu kita menapak di titian kayu. Di sepanjang langkah terlihat ribuan enceng gondok menyapa kita. Mereka beraubade sambil meneriakan ucapan, 'Selamat datang di Ompang Sei Songsang wahai Sang Petualang". Aku dengar ucapan itu dihela nafasku. Sebagai mercusuar di lain waktu kita abadikan momen itu. Kita saling bergandengan tangan. Mengukir harapan dibalik tabir kehidupan. Menyongsong hari baru penuh pendar semangat anyar diderap langkah sisa waktu.

Tempat biasa tatkala disentuh oleh tangan penuh cinta akan menjadi surga berpendar asa. Aku lihat dan rasakan geliat itu pada hamparan semangatmu kawan. Teruslah ukir prestasi di balik negeri yang penuh misteri ini wahai pewaris negeri. Tanah peradaban harus diurus serius. Hingga mampu menggugah nurani yang beku dari geliat pariwisata berkemajuan. Pancangkan tekad membangun negeri pada puncak destinasi. Kibarkan bendera dan panji sambil menghirup sensasi kopi literasi. Saudaraku tak ada kekuatan tanpa kebersamaan. Biarkan tangan-tangan tak kelihatan merangkul dan menuntunmu merubah dunia.

(***)

Karya ©: M. Syari Faidar

Cerpen tiga paragraf (Pentigraf) ini sudah terbit di website Cakrawalaindonesia.id, Rabu, (6/1/2021).

Senin, 19 Januari 2026

SYAIR PARA PENDOSA



Karya ©: M. Syari Faidar

Karena diriku bukanlah insan sempurna, teramat jauh dari Manusia 1/2 Dewa. Maka oleh karena itu menghindari dan membenciku bukanlah dosa.

Aku bukanlah saudagar kaya batu permata, juga bukan prajurit gagah bertopi baja.

Aku hanyalah seorang pendosa yang pernah terjerembab dalam lingkaran narkoba. Aku bukanlah pendosa yang pernah membunuh nyawa! Atau bahkan memperkosa wanita dalam birahi senja. Aku hanya para pendosa yang memasukkan berliter-liter air nira dan air soda dalam lambung dan rongga dada.

Karena Tuhan Tidak Buta, membenciku bukanlah dosa. Terimakasih pernah berbagi cerita dan derai tawa.

Menghilangkan bahkan membunuhku dengan 'AK47 atau bayonet sewa' bukanlah dosa.

Syair ini tergubah bagi para pendosa yang resah di ujung asa. Semoga malam maafkan kita semua hingga kembali menjadi fitrah.

Riau, 17 Desember 2014

BERJUANG (versus) BERUANG


Selintas beberapa jenak yang lalu terbaca status di beranda salah seorang sahabat FB.

Bunyi statusnya itu begini; "YANG BERJUANG AKAN KALAH DENGAN YANG BERUANG".

Degh.... statusnya teramat sangat bikin nelangsa dan miris.

Sepersekian detik kemudian lamunanku tersentak, hasratku meronta sambil cegukan --penyakit manja yang diderita 2 hari ini-- dan dengan lantang berteriak sekuat-kuatnya dalam hati, "TIDAKKKKK!!!!".

Jleb..... bohlam lampu pun mati.

Selesai.

Karya ©: M.Syari Faidar

Rokan Hulu, (22/11/2021)

Minggu, 18 Januari 2026

CINTA, KERINDUAN (&) HARGA MATI


Karya ©: M. Syari Faidar

Sendiri itu sunyi, sendiri itu sepi. 

Lagi-lagi kembali raga mengalami, berkali-kali. 

Meski entah sampai kapan, kerinduan hati ini akan terjawab. 

Penuh teka-teki, sarat muatan misteri.

Dua depa di tenggara khatulistiwa, dua kuntum puspa cempaka masih tetap terpisah. 

Saling terdiam meski bernara pada akar nan sama.

Angin akhir Oktober membuat enam tangkai aglonema bergoyang menari, tersirat mengirim pesan; Cinta yang hakiki selalu menciptakan kerinduan, itu harga mati.

Ujungbatu, (24/10/2021)

OJO MENUO TANPO CERITO

Dunia itu luasssss Jenderal!  Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito".  Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...