GURITA SILONEMSONG
GURITA SILONEMSONG (GURIndam kaTA 12,69) hadir lewat sebuah perenungan panjang. Bentuk dari aktualisasi diri serta imbas dari kemelut bhatin yang bergejolak. GURITA 12,69 adalah kreatifitas seni anak bangsa yang hadir lewat coretan², permainan kuas dan cat, serta berbelitnya syair, sajak dan puisi (roman & sastra). Semoga dengan kehadiran GURITA 12,69 bisa menambah bahan perenungan bagi kita terhadap realitas lingkungan. Terutama lingkungan seni, sastra dan budaya di negeri Khatulistiwa.
Kamis, 30 April 2026
OJO MENUO TANPO CERITO
Jumat, 27 Maret 2026
PUNCAK RANAH TETAP ABADI
Engkau menyapaku dengan gesekan riuh
Menari dan bernyanyi dengan langgam mendayu
Gegap gempita bertalu-talu
Menyambut tetamu dari negeri berdebu
Aku tersenyum dalam derap sepatu
Menghujam tegap agar tak jatuh
Aku masih seperti dulu
Ketika aku masih lugu
Itu seribu tahun lalu
Di saat engkau masih diserbu dari berbagai penjuru
Gemericikmu tetap kurindu
Bening dingin banyu Samati Kiri yang pernah belai mukaku
Menghapus dan menyeka debu-debu
Di longsoran bebatu
'ku tahu itu bukan jalurmu dulu
Naluri alamku berbisik pilu
Ternyata longsoran itu menyingkat waktu
Aku bukan menteri
Juga bukan seorang bupati
Menebar pesona berbingkai janji
Menata negeri membangun destinasi
Meski tanjakku menjulang tinggi
Dirajut visi dan misi
Di Tanah Ranah
'ku untai kisah
Bersama resah hati para pemuda
Gelisah menatap jalan setapak tak terbenah
Mengarah kaki puncak ranah
Kutitahkan pada penghulu hati
Bersabarlah kalian menanti
Hingga jalurmu diperbaiki
Puncak Ranah 'kan tetap abadi
Rokan Hulu, 2 Juli 2019
Karya ©: M. Syari Faidar
Selasa, 24 Maret 2026
Entahlah, apakah bisa?
setiap makhluk insan lemah
pernah di suatu masa
ku urai kenaifanku
jujur tanpa hijab
terbuka tanpa sekat
setelah itu engkau berubah
mundur, menjauh
dan akhirnya menghilang
cintamu menguap
bagai gelembung busa
aku goyah
terombang ambing tanpa makna
dunia hampa
tatapan mata gelap gulita
tiga purnama mencari makna
sembilan belas purnama terjawab sudah
terurai resah dan gelisah
karena ternyata setiap makhluk insan lemah
tak ada lagi rasa cinta
ketika insan punya salah
naif memang sungguh naif
itulah fakta dan realita
hakikat jati diri manusia
mencari kalimah sempurna
ah sudahlah
di pagi ini coba hapus semua cerita
tapi entahlah, apakah bisa?
jika masih tersisa remah-remah
maklumi sajalah
bahwa setiap makhluk insan lemah
Ujung Batu, 24 Maret 2026
Karya ©: M. Syari Faidar
Jumat, 23 Januari 2026
Bangkok, Berdiri di Celah Candaan dan Kenyataan
Bangkok. Sering kami plesetkan dengan Bangkinang Kuok.
Sebuah kota kecil yang terletak di pinggiran sungai Kampar.
"Kamu nanti kalau udah besar mau jalan-jalan --traveling-- ke mana?" tanya temanku.
"Ke Bangkok. Bangkinang Kuok." ucapku.
Tentu saja diucapkan dengan sambil tertawa. Sering kota itu jadi candaan kami. Ternyata eh ternyata candaan itu benar-benar terwujud menapakkan kaki di Kota Bangkok yang sebenarnya. Candaan waktu kecil, terwujud berpuluh-puluh tahun kemudian. Amazing ternyata kata-kata yang diucapkan sambil bercanda bisa jadi kenyataan.
Kemarin berangkat dari Bandara Soekarno Hatta 3,5 jam di udara. Burung Besi mendarat dengan mulus di Bandara Don Mueang, Tailan. Bandara ini ternyata merupakan salah satu bandara yang tertua di dunia, lebih dari 100 tahun beroperasinya, sejak 1914.
Di pojok Madison Hotel terlihat beringin kecil tumbuh dingin.
Malam masih merambat pelan mengejar pagi. Lorong Madison terlihat sepi.
Saatnya untuk meluruskan pinggang sejenak. Sebab besok petualangan menyusuri sudut kota Bangkok akan di mulai.
Madison Hotel, Bangkok, Tailan. (23/1/2026)
Karya ©: M. Syari Faidar
Selasa, 20 Januari 2026
Ompang Sei Songsang Menggelitik Dunia
Genangan kenangan itu kembali terkuak. Menyeruak di balik semak. Fokus mata menatap percikan riak. Lamunan melintas ruang. Menderu, melayang melintas kecipak kenangan. Ompang Sei Songsang menggelitik duniaku. Dunia masa kecil bersama sahabat kecil menari-nari tersenyum sambil melambaikan tangan. Puluhan tahun lalu, serpihan waktu itu masih terpampang jelas. Berenang, menangkap udang, bermain air, lomba bernafas paling lama di perut air yang bening. Terjun dari pohon yang menjulai di tepian sungai. Ompang Sei Songsang telah menggelitik duniaku, dunia masa kecilku.
Hari sudah sepenggalan. Matahari mulai menaikan kadar panasnya. Bersamamu kita menapak di titian kayu. Di sepanjang langkah terlihat ribuan enceng gondok menyapa kita. Mereka beraubade sambil meneriakan ucapan, 'Selamat datang di Ompang Sei Songsang wahai Sang Petualang". Aku dengar ucapan itu dihela nafasku. Sebagai mercusuar di lain waktu kita abadikan momen itu. Kita saling bergandengan tangan. Mengukir harapan dibalik tabir kehidupan. Menyongsong hari baru penuh pendar semangat anyar diderap langkah sisa waktu.
Tempat biasa tatkala disentuh oleh tangan penuh cinta akan menjadi surga berpendar asa. Aku lihat dan rasakan geliat itu pada hamparan semangatmu kawan. Teruslah ukir prestasi di balik negeri yang penuh misteri ini wahai pewaris negeri. Tanah peradaban harus diurus serius. Hingga mampu menggugah nurani yang beku dari geliat pariwisata berkemajuan. Pancangkan tekad membangun negeri pada puncak destinasi. Kibarkan bendera dan panji sambil menghirup sensasi kopi literasi. Saudaraku tak ada kekuatan tanpa kebersamaan. Biarkan tangan-tangan tak kelihatan merangkul dan menuntunmu merubah dunia.
(***)
Karya ©: M. Syari Faidar
Cerpen tiga paragraf (Pentigraf) ini sudah terbit di website Cakrawalaindonesia.id, Rabu, (6/1/2021).
Senin, 19 Januari 2026
SYAIR PARA PENDOSA
Karya ©: M. Syari Faidar
Karena diriku bukanlah insan sempurna, teramat jauh dari Manusia 1/2 Dewa. Maka oleh karena itu menghindari dan membenciku bukanlah dosa.
Aku bukanlah saudagar kaya batu permata, juga bukan prajurit gagah bertopi baja.
Aku hanyalah seorang pendosa yang pernah terjerembab dalam lingkaran narkoba. Aku bukanlah pendosa yang pernah membunuh nyawa! Atau bahkan memperkosa wanita dalam birahi senja. Aku hanya para pendosa yang memasukkan berliter-liter air nira dan air soda dalam lambung dan rongga dada.
Karena Tuhan Tidak Buta, membenciku bukanlah dosa. Terimakasih pernah berbagi cerita dan derai tawa.
Menghilangkan bahkan membunuhku dengan 'AK47 atau bayonet sewa' bukanlah dosa.
Syair ini tergubah bagi para pendosa yang resah di ujung asa. Semoga malam maafkan kita semua hingga kembali menjadi fitrah.
Riau, 17 Desember 2014
BERJUANG (versus) BERUANG
Selintas beberapa jenak yang lalu terbaca status di beranda salah seorang sahabat FB.
Bunyi statusnya itu begini; "YANG BERJUANG AKAN KALAH DENGAN YANG BERUANG".
Degh.... statusnya teramat sangat bikin nelangsa dan miris.
Sepersekian detik kemudian lamunanku tersentak, hasratku meronta sambil cegukan --penyakit manja yang diderita 2 hari ini-- dan dengan lantang berteriak sekuat-kuatnya dalam hati, "TIDAKKKKK!!!!".
Jleb..... bohlam lampu pun mati.
Selesai.
Karya ©: M.Syari Faidar
Rokan Hulu, (22/11/2021)
Minggu, 18 Januari 2026
CINTA, KERINDUAN (&) HARGA MATI
Karya ©: M. Syari Faidar
Sendiri itu sunyi, sendiri itu sepi.
Lagi-lagi kembali raga mengalami, berkali-kali.
Meski entah sampai kapan, kerinduan hati ini akan terjawab.
Penuh teka-teki, sarat muatan misteri.
Dua depa di tenggara khatulistiwa, dua kuntum puspa cempaka masih tetap terpisah.
Saling terdiam meski bernara pada akar nan sama.
Angin akhir Oktober membuat enam tangkai aglonema bergoyang menari, tersirat mengirim pesan; Cinta yang hakiki selalu menciptakan kerinduan, itu harga mati.
Ujungbatu, (24/10/2021)
OJO MENUO TANPO CERITO
Dunia itu luasssss Jenderal! Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito". Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...
-
Karya ©: M. Syari Faidar Lihatlah ada telaga di mataku Kalau belum engkau temukan air itu, coba lihat sekali lagi dengan hati yang bening...
-
Dunia itu luasssss Jenderal! Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito". Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...
-
Selepas dzuhur. Sepulang dari sekolah. Berangkat kami. Bersama-sama. Bergerombol. Laki-laki semua. Masing-masing bawa bekal nasi dari rumah....





%20BERUANG.jpg)
