Rabu, 31 Desember 2025

TERBANGUN (lalu) MEMBANGUNKAN



Karya ©: M. Syari Faidar

Dingin masih tersisa dari gerimis manis yang terjun tadi malam. Tanah di luaran masih basah. Di kejauhan sayup terdengar lantunan ayat suci, merambat samar.

Meski cuma tidur beberapa jam, di sepertiga malam kuterbangun. Dingin air wudhu bekukan syaraf wajahku. Kaku. Membatu.

Sejam kemudian menjelang azan subuh, tanpa konflik bhatin kubangunkan kamu. Meskipun kita tidak berada dalam satu bangunan yang satu. Namun ikatan hati terasa menyatu padu.

Geliat suara serakmu itu yang kurindu. Cuma beberapa detik saja mendengar suaramu telah membuat aliran darah di wajahku mengalir kencang tanpa halang rintang.

Azan subuh memanggilku. Satu pintaku; Maafkan naluri manjaku yang TERBANGUN (lalu) MEMBANGUNKAN mu.

Bangkinang, (04/11/2021)

(***)

*Sajak ini telah terbit di media online Cakrawalaindonesia.id (11/11/2021)

Selasa, 30 Desember 2025

JANGAN (terlalu) BERHARAP


Karya ©: M. Syari Faidar

Ini bukan cerita dari laut, juga tidak hikayat yang turun dari langit.

Meski guratan tampak tak hidup, ada kisah di sebaliknya.

Bercerita tentang harapan yang kian tak menentu. Terombang-ambing antara kepercayaan atau mungkin keniscayaan. Semua itu bernara dari satu sumbu poros kehidupan; CINTA.

Kemarin senyum merona wajah. Sore tadi asa dirudapaksa. Kembali berdarah.

Alam akhirnya bertitah, kirim berbelasungkawa lewat butiran hujan bak derai air mata. Sedih tiada terkira.

Reinkarnasi Khalil Gibran lewat di pelupuk mata. Selayang pandang kemudian menghilang seperti harapan tanpa kepastian.

Ruang hampa selaksa jiwa hening menerima berita dari surga; JANGAN (terlalu) BERHARAP.

Pulau Belimbing, (31/10/2021)

(***)

*Sajak ini telah terbit di media online Cakrawalaindonesia.id (11/11/2021)

EMBUN (pada) HELAI DAUN MINT


Karya ©: M. Syari Faidar

Kemarin, hujan guyur seperseratus bumi.

Pagi ini, beberapa batang mint engkau pindahkan dari polybag agar mekar berkembang.

Di tengah negeri, kunikmati halusinasi.

Membayangkan dua butir embun pada helai daun mint tersentuh jemari sehatmu.

Aku sangat ingin menjadi embun itu, agar tunak membelai kedalaman hatimu.

Pekanbaru, (30/10/2021)

(***)

*Sajak ini telah terbit di media online Cakrawalaindonesia.id (11/11/2021)

Sabtu, 27 Desember 2025

TELAGA DARAH MATA

Karya ©: M. Syari Faidar

Lihatlah ada telaga di mataku 
Kalau belum engkau temukan air itu, coba lihat sekali lagi dengan hati yang bening 
Telaga di mata ini airnya dingin 
Sedingin hembusan angin disela bergoyangnya kelopak edelweiss pada bekunya gunung Sindoro 

Hentikan!!! senyuman sumringah mengejek di bibirmu 
Bukan itu yang kami mau 
Yang kami inginkan hanya rasa empatimu pada telaga keruh di negeri ini 
Negeri para wayang yang tengah jemawa berakrobatik pada kemilau sorot lampu kamera
Negeri para punggawa durjana yang tertawa bahagia akan derita kaum sudra 

Ini bukan barang langka atau dongeng di negeri para bedebah 
Buka matamu wahai manusia setengah dewa
Ada fakta berdarah berserakan sepanjang garis khatulistiwa 
Dari garis pantai Aceh hingga dataran tinggi Wamena di Papua 

Sekali lagi tatap mataku 
Tatap mataku dalam hening tanpa bising 
Nanti akan engkau temukan telaga keruh itu menjadi merah 
Telaga keruh di mataku akan menjadi telaga darah mata anak bangsa

 Riau, (20/10/2019) 

 #SajakBerdarah​ #TelagaDarahMata​

OJO MENUO TANPO CERITO

Dunia itu luasssss Jenderal!  Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito".  Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...