Senin, 22 Februari 2010

DEPRESI PEJUANG 2


Ketika temaram senja merambat pelan di ujung lembayung.
Engkau rangkai asa yang menggumpal di kedalaman jiwamu.
Bayu yang bertiup pelan terasa bagaikan taufan.
Memporak-porandakan apa yang telah tersusun rapi di benakmu.

Engkau sekarat.
Dan merasakan dunia ini gelap gulita.
Keramaian terasa sunyi.

Engkau mulai mendesah.
Engkau terus resah.
Sekujur tubuhmu akhirnya berdarah.

Sendiri engkau berjalan di tengah kebisingan.
Engkau lihat berjuta macam kesibukan.
Tapi.....tak ada yang mau menatap dirimu yang sekarat dalam pertempuran.

Hai.....!!!!
Engkau seorang Pejuang...!!!!!
Engkau harus tahan terhadap dentuman dan rentetan nestapa dunia.
Hingga obsesimu terangkul dan menebarkan aroma kedamaian di belantara kota yang hingar bingar.


Bangkinang, 26 April 2002.

DEPRESI PEJUANG 1


Siang yang berdebu engkau duduk di antara ribuan orang yang sibuk.
Angin yang berhembus membawa butiran debu menyebabkan matamu perih.
Sementara pakaian yang engkau kenakan telah diselimuti debu.
Sama seperti pikiran mu yang menerawang diantara kepingan dan reruntuhan bangunan diselimuti kabut pekat.
Kusut masai.
Bingung....
Betapa banyak kedukaan di hatimu.
Hingga membuat kepalamu tertunduk dalam ketidak-berdayaan.
Bagai sebuah kursi tua yang tergendeng lemah.

Malam-malam gelap engkau selalu terjaga bersama selaksa hati yang terus berontak.
Ketika siang datang, kebencian akan berkabutnya perjalanan membuat engkau dikerubungi setan-setan yang memberikan air beracun kepadamu.

Sering kali engkau terbang bersama jiwa dan mengembara hingga ke suatu masa.

Ach....nyamuk-nyamuk yang mengganggu.
Padahal engkau lagi merangkai bunga.
Yang akan engkau berikan kepada Matahari.
Yang selalu menuntunmu ke tempat sunyi, bercinta bersama asa.
Dan engkau bukan bermimpi.
Engkau lagi terjaga bersama serigala malam yang mencari mangsa.

Engkau seorang Pejuang.....!!!!!
Bangkitlah dan teruskan perjuanganmu untuk menghancurkan benteng keangkuhan yang di tata dari mutu-manikam ketidak-jujuran dan kecurangan.



Bangkinang, 26 April 2002.

Minggu, 21 Februari 2010

AKU TELAH MATI


Basahi-lah bumi dengan air matamu.
Bila itu kau anggap suatu kebajikan.
Walau engkau akan menenggelamkan dunia, semua itu tak akan mampu mengembalikan aku.
Petir yang telah engkau tembakan.
Membuat hatiku hangus terbakar.
Untuk memastikan aku telah tiada.
Ciumi-lah belulangku.
"Aku telah mati muda"
Kematianku tidak berarti apa-apa bagi percaturan dunia yang telah terbenam ini.

Engkau lihat asap itu...!!!
Membubung tinggi ke angkasa.
Membawa rohku kembali ke Kerajaan Abadi.
Tinggi, tinggi dan semakin tinggi meninggalkan bumi.
Bumi yang telah tenggelam dalam keangkara-murkaan, kesombongan dan kelobaan.

Ketika air matamu mengalir di pipimu yang mulus.
Saat itu pula telah lenyap budi dan kasih sayang yang menghadirkan kemesraan.

Di sini, di atas awan kuuntai kata mutiara.
Kurangkai syair tentang cinta yang tak pernah sampai ke bumi.
Sebab aku tinggal di Kerajaan Awan.
Jika engkau membaca gubahanku.
Berarti engkau telah mati akibat kekeringan airmata.
Air mata yang kau jadikan perisai untuk menebus kesalahanmu.



Telayap, 18-02-2002

Rabu, 17 Februari 2010

SUMUR KEBERSAMAAN


Malam ini aku lagi merangkai Bunga Mawar yang di petik dari Taman Sang Raja.
Akan kupersembahkan untuk Matahari.
Biar tanganku tertusuk dan berdarah.
Aku tetap akan merangkai bunga.
Terus dan terus.
Seperti Matahari yang tak pernah lelah memberikan cahaya kehidupan.
Cahayanya yang terang mampu membakar selaksa jiwaku yang telah mati.
Hingga aku hidup di dalam kehidupan yang penuh dengan mimpi dan ilusi

Kesendirian selalu menemani hingga aku  tertidur dalam kelelahan.
Namun.................masih ada kekasihku.
Dewi matahari yang pancarkan cahaya kedamaian.
Seperti damainya aku yang terlahir di dalam Taman Sang Raja.

Salahkah bila bunga mawar yang aku pilih?????
Padahal ribuan bahkan jutaan jenis bunga berserakan di belukar dunia.
Tidak!!!!!
Bunga Mawar pantas untuk Matahari...!!!!!

Seekor kupu-kupu terbang di tengah kemelut perang.
Bagai seekor kupu-kupu besi.
Perang antara dua jiwa yang akan teriakkan kata "Merdeka".

"Aku Pejuang"
Seorang pejuang tak akan pernah menyerah hingga kematian menghunus pedang.

Namun di dunia ini banyak pejuang-pejuang.
Apakah itu engkau???
Engkau, engkau dan engkau atau engkau?????
Tapi.....jangan tertawa dulu sebab perjuanganmu mungkin semu.
Perjuangan bukan untuk membuat Istana Megah dari kaca.
Tapi menggali sumur kebersamaan hingga dingin air memberikan kedamaian.
Sedamai bunga mawar yang disiram embun pagi.
Dan selembut kasih Matahari yang memberikan cahaya kehidupan.



Bangkinang, 26 April 2002

Minggu, 14 Februari 2010

KENCINGI AKU BUNDA


Kencingi aku Bunda, agar aku terjaga dari tidur lelahku.
Sebab tidurku merupakan kesempatan bagi setan-setan merayu manusia menjadi badut.
Setan-setan akan berhenti merayu jika semua manusia sudah menjadi badut.
Badut-badut yang akan membuat keonaran dalam Kerajaan Manusia.
Badut-badut yang lupa dengan hakikat dan kodrat kemanusiaan-nya.
Bunda harus tahu, setan-setan hanya mampu dilumpuhkan dengan air kencing.
Anakmu Bunda, selalu terjaga jika jangkrik malam berderik.
Lima puluh tujuh tahun sudah anakmu berjaga bersama rembulan dan matahari.
Kini kelelahan mengecup lembut bola mata anakmu ini.


Kencingi aku Bunda, agar aku terjaga dari tidur lelahku.
Sebab tidurku merupakan kesia-siaan.
Yang akan membiarkan badut-badut mematahkan tradisi kebersamaan.
Badut-badut yang lupa akan hakikat kehidupannya.
Bunda harus tahu mereka hanya mampu dimusnahkan dengan air kencing.


Kencingi aku Bunda, agar aku terjaga dari tidurku.
Sebab jika aku terbangun dari tidur lelahku.
Aku akan mengencingi badut-badut yang telah berubah menjadi setan-setan.
Dan aku juga akan mengencingi Kerajaan Setan yang dihuni oleh badut-badut.
Badut-badut yang telah membunuh perjuangan jangkrik-jangkrik malam yang berderik.
Jangkrik-jangkrik malam yang menjadi teman anakmu bersama-sama dengan rembulan dan matahari untuk menjaga Kerajaan Manusia selama gaung kemerdekaan berkumandang.


Pangkalan Kerinci, Februari 2002 

Karya ©: M. Syari Faidar

(Disalin sesuai dengan Naskah Asli)

Senin, 18 Januari 2010

T I D U R

Aku lahir ke dunia ketika bulan lagi tidur.
Tidur bersama bintang-bintang di awan.
Menunggu mentari berlari mengejar malam.

Sekarang aku lagi tidur-tiduran di atas ayunan.
Yang kuikat di dinding terjal pegunungan.
Angin lembah yang bertiup membuatku terlelap.

Tangan kananku menggenggam sebuah jam antik.
Tangan kiriku memegang sebilah pedang.
Jam antik yang akan membangunkan aku dengan gema loncengnya.
Yang langsung mengetuk relung jiwa.
Jika aku terbangun.
Aku akan melangkah melewati tebing-tebing curam.
Pergi jauh mengembara dengan menggenggam pedang.
Yang kuasah pada embun pagi yang menempel di dedaunan kering.
Dengan pedang ini aku merasa berani menatap gerbang kematian.
Kematian yang merupakan tidur panjang.

Sebelum kematian memanggilku.
Kutorehkan mata pedang pada bebatuan rekah.
Kuukir puisi-puisi indah.
Yang syairnya akan menebar aroma kedamaian.
Sedamai matahari yang memeluk bumi dan rembulan yang mencumbui bintang-bintang.

Sebelum aku tidur di rahim bumi.
Tataplah mataku.
Ada lukisan laut yang berubah menjadi gunung.

Ketika tanganku sedang memainkan pedang.
Bongkahan batu di dasar hatiku mencair.
Cairannya akan kusiram untuk kasih yang ditebarkan di bumi.
Sebelum bumi tidur.
Sebelum matahari tidur.
Sebelum rembulan tidur bersama bintang.
Sebelum aku tidur di rahim bumi.


(Pangkalan Kerinci, Januari 2002)

Minggu, 17 Januari 2010

TERBANG MENGEMBARA


Sebentar lagi air akan mencurah dari langit.
Ada pertanda, lewat lambaian pucuk-pucuk kelapa.

Gesekannya terdengar riuh membahana.
Kilatan kilat terlihat sempurna.
Dengarlah.....dengarlah....gemuruhnya terdengar di genteng.

Menangislah...menangislah.
Ungkapkanlah kesedihanmu pada Sang Pencipta tatkala hujan memeluk bumi.
Setelah tangisanmu terhenti.
Sematkanlah Pin Burung Garuda di dada kananmu.

Terbanglah....terbanglah kemana kau suka.
Sebab engkau berhak menikmati kemerdekaan di Negaramu.

RIAU, (16/6/2003--4/11/2009)

RAKSASA ANGKARA MURKA


Seringaimu mengerikan.
Mengingatkan pada cerita Legenda Nenek Gergasi.
Yang selalu di dongengkan oleh Bundaku ketika malam mencumbui rembulan.

Engkau merubah dirimu menjadi Raksasa Angkara Murka.
Sinar matamu mengisyaratkan kebencian yang mendalam.

Aku tahu, zaman telah merubahmu menjadi monster menakutkan.
Tekanan kehidupan yang membuat dirimu membenci kepura-puraan.
"Itu Munafik..!!!", katamu.

Lalu ketika semua orang turun kejalan.
Engkau ambil tongkat komando untuk melakukan Revolusi.
Engkau runtuhkan tembok kesombongan para Kapitalis yang telah menepikanmu.
Engkau bakar istana-istana emas yang di bangun dari pundi-pundi korupsi yang seharusnya untuk kesejahteraan rakyat negeri.
Engkau usung keranda Perlawanan Tirani.
Engkau teriakan slogan-slogan penuh bukti yang tentu saja bukan janji-janji.

Aku tahu niatmu suci.
Tapi yang kuminta darimu, "Janganlah menjadi Raksasa Angkara Murka".
"Jadilah Raja Adil bagi Negeri".

Di balik aksi sucimu, Kami selalu berada di belakangmu memberikan suntikan moralisasi agar jangan engkau malah berbalik menjadi "Raksasa Tanpa Peduli"

Riau, (20/9/2002--5/12/2009).

TELANJANGI KEPEDIHAN


Ratapan ketidakpastian
Gelap yang temaram
Senandung ketidakmengertian
Kabut ketidaksadaran
Mahligai yang diidamkan
Hasrat yang terpendam
Kedigdayaan yang mumpuni
Tuhan yang menguji
Badai nestapa yang menggayut
Jerit Kepedihan
Tawa Kegalauan

Tawa itu terdengar seperti jerit kepiluan
Dan tangisan itu semakin menyayat relung hati
Pena tak lagi bisa menari
Pikiran terbius benda menyiksa
Terduduk dalam resah
Menggelepar tak berdaya
Tak mengerti mengapa terjadi
Kebingungan yang membeku

Kasih sayang kini berubah bersama perjalanan waktu yang lelah
Selaksa hati pedih
Airmata tak mampu menjawab arti apa yang terjadi
Tirai kerinduan terkoyak
Pelabuhan telah mengecil
Badai menghantam buritan
Kemudi patah kendali
Tak mampu menembus kabut menggapai kebahagiaan

Burung-burung terbang mengangkasa
Desah nafas mengepak sengau
Tikaman kehidupan bak panah menghujam hulu hati
Perih tak terperihkan

Pesona kembang seruni
Membutakan mata hati
Berjalan tertatih-tatih di balik resah yang membuncah
Menembus pekat malam disertai lambaian Selamat Tinggal

Nafsu menggelora dalam jiwa
Roh-roh yang tak terpuaskan
Mimpi-mimpi menakutkan tak lagi dihiraukan
Berlomba bersama detik waktu
Telanjangi Kepedihan

(Riau, 2003--2010)

REINKARNASI


Ketika aku berdiri di atas karang lautan.
Deburan ombak memercik dan membelai lembut sepasang kakiku yang terbungkus salju.
Kristal mataku menatap tajam kedalaman lautan yang penuh dengan gejolak.
Menembus batas ketidak mengertian.
Dengan gerakan pelan dalam kepastian.
Wajah resahku bergerak menatap halimun di angkasa yang mengambang.

Seekor camar laut menukik lalu menyambar seekor ikan.
Tunjukkan kebolehannya mengatasi kehidupan.
Kekaguman bersenandung dalam gelap hatiku.
Jasadku bergetar..................
.......................
Rohku terpaku....................................................
Lalu.............ragaku bermetamorfosa dan keajaiban terjadi.
Dari tubuh ringkihku keluarlah sepasang sayap lembut yang kokoh dan kaki lunglaiku berubah memiliki cakar yang indah.
Dan yang pasti aku akhirnya menjadi "Seekor Camar".
Aku akhirnya mencoba untuk mengepakkan sayap indahku.
Sejenak tubuh mungilku melambung.....naik....naik....tinggi....tinggi..... dan akhirnya terbang mengitari panorama lautan nan teduh.
Jiwa Camar telah aku miliki.
Aku terbang berpetualang melewati karang-karang kokoh, samudera yang membentang, dan menembus awan lembut yang membelai tubuhku.
Aku terbuai dalam damai.

Sendiri kuarungi perjalanan penuh makna kehidupan yang di bungkus bingkai waktu.
Ketika aku ingin menikmati kerimbunan belantara.....mencoba untuk lepas dari hamparan kesia-siaan.
Segerombolan pemburu liar lepaskan tembakan.
Pelurunya melesat bak halilintar menembus hulu hatiku.
Sejenak tubuhku menggelepar, dan akhirnya tubuh tercabikku lemah dan jatuh dihelaian daun-daun tua yang berserakan.
Sayup-sayup telingaku mendengar tawa penuh kemenangan dengan sukacita yang lantang terlepas dari rongga tenggorokan para pemburu kepuasan.
Menikmati kesenangan dan kebahagiaan disela tersengalnya nafasku.
Darah mengalir dari luka hatiku.
Membasahi sekujur tubuhku.
Yang terkapar dalam ketidak-berdayaan
Aku mencoba bertahan, serta berharap mukjizat menyelimuti kepiluanku.
Dan tak terasa kemudian tubuhku berubah wujud seperti semula.
Kini aku jadi manusia lagi yang akan menjalani siklus kehidupan dengan sebuah kata mujarab yang kupetik dari hati sang camar yang malang.
"No Problem".

Yogyakarta, ....................2000

OJO MENUO TANPO CERITO

Dunia itu luasssss Jenderal!  Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito".  Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...