Engkau menyapaku dengan gesekan riuh
Menari dan bernyanyi dengan langgam mendayu
Gegap gempita bertalu-talu
Menyambut tetamu dari negeri berdebu
Aku tersenyum dalam derap sepatu
Menghujam tegap agar tak jatuh
Aku masih seperti dulu
Ketika aku masih lugu
Itu seribu tahun lalu
Di saat engkau masih diserbu dari berbagai penjuru
Gemericikmu tetap kurindu
Bening dingin banyu Samati Kiri yang pernah belai mukaku
Menghapus dan menyeka debu-debu
Di longsoran bebatu
'ku tahu itu bukan jalurmu dulu
Naluri alamku berbisik pilu
Ternyata longsoran itu menyingkat waktu
Aku bukan menteri
Juga bukan seorang bupati
Menebar pesona berbingkai janji
Menata negeri membangun destinasi
Meski tanjakku menjulang tinggi
Dirajut visi dan misi
Di Tanah Ranah
'ku untai kisah
Bersama resah hati para pemuda
Gelisah menatap jalan setapak tak terbenah
Mengarah kaki puncak ranah
Kutitahkan pada penghulu hati
Bersabarlah kalian menanti
Hingga jalurmu diperbaiki
Puncak Ranah 'kan tetap abadi
Rokan Hulu, 2 Juli 2019
Karya ©: M. Syari Faidar

