Senin, 18 Januari 2010

T I D U R

Aku lahir ke dunia ketika bulan lagi tidur.
Tidur bersama bintang-bintang di awan.
Menunggu mentari berlari mengejar malam.

Sekarang aku lagi tidur-tiduran di atas ayunan.
Yang kuikat di dinding terjal pegunungan.
Angin lembah yang bertiup membuatku terlelap.

Tangan kananku menggenggam sebuah jam antik.
Tangan kiriku memegang sebilah pedang.
Jam antik yang akan membangunkan aku dengan gema loncengnya.
Yang langsung mengetuk relung jiwa.
Jika aku terbangun.
Aku akan melangkah melewati tebing-tebing curam.
Pergi jauh mengembara dengan menggenggam pedang.
Yang kuasah pada embun pagi yang menempel di dedaunan kering.
Dengan pedang ini aku merasa berani menatap gerbang kematian.
Kematian yang merupakan tidur panjang.

Sebelum kematian memanggilku.
Kutorehkan mata pedang pada bebatuan rekah.
Kuukir puisi-puisi indah.
Yang syairnya akan menebar aroma kedamaian.
Sedamai matahari yang memeluk bumi dan rembulan yang mencumbui bintang-bintang.

Sebelum aku tidur di rahim bumi.
Tataplah mataku.
Ada lukisan laut yang berubah menjadi gunung.

Ketika tanganku sedang memainkan pedang.
Bongkahan batu di dasar hatiku mencair.
Cairannya akan kusiram untuk kasih yang ditebarkan di bumi.
Sebelum bumi tidur.
Sebelum matahari tidur.
Sebelum rembulan tidur bersama bintang.
Sebelum aku tidur di rahim bumi.


(Pangkalan Kerinci, Januari 2002)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OJO MENUO TANPO CERITO

Dunia itu luasssss Jenderal!  Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito".  Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...