Karya ©: M. Syari Faidar
Dingin masih tersisa dari gerimis manis yang terjun tadi malam. Tanah di luaran masih basah. Di kejauhan sayup terdengar lantunan ayat suci, merambat samar.
Meski cuma tidur beberapa jam, di sepertiga malam kuterbangun. Dingin air wudhu bekukan syaraf wajahku. Kaku. Membatu.
Sejam kemudian menjelang azan subuh, tanpa konflik bhatin kubangunkan kamu. Meskipun kita tidak berada dalam satu bangunan yang satu. Namun ikatan hati terasa menyatu padu.
Geliat suara serakmu itu yang kurindu. Cuma beberapa detik saja mendengar suaramu telah membuat aliran darah di wajahku mengalir kencang tanpa halang rintang.
Azan subuh memanggilku. Satu pintaku; Maafkan naluri manjaku yang TERBANGUN (lalu) MEMBANGUNKAN mu.
Bangkinang, (04/11/2021)
(***)
*Sajak ini telah terbit di media online Cakrawalaindonesia.id (11/11/2021)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar