Jumat, 27 Maret 2026

PUNCAK RANAH TETAP ABADI


Engkau menyapaku dengan gesekan riuh

Menari dan bernyanyi dengan langgam mendayu

Gegap gempita bertalu-talu

Menyambut tetamu dari negeri berdebu


Aku tersenyum dalam derap sepatu

Menghujam tegap agar tak jatuh

Aku masih seperti dulu

Ketika aku masih lugu 

Itu seribu tahun lalu 

Di saat engkau masih diserbu dari berbagai penjuru


Gemericikmu tetap kurindu

Bening dingin banyu Samati Kiri yang pernah belai mukaku 

Menghapus dan menyeka debu-debu


Di longsoran bebatu

'ku tahu itu bukan jalurmu dulu

Naluri alamku berbisik pilu

Ternyata longsoran itu menyingkat waktu


Aku bukan menteri 

Juga bukan seorang bupati

Menebar pesona berbingkai janji

Menata negeri membangun destinasi

Meski tanjakku menjulang tinggi

Dirajut visi dan misi


Di Tanah Ranah

'ku untai kisah

Bersama resah hati para pemuda 

Gelisah menatap jalan setapak tak terbenah 

Mengarah kaki puncak ranah 

Kutitahkan pada penghulu hati

Bersabarlah kalian menanti

Hingga jalurmu diperbaiki

Puncak Ranah 'kan tetap abadi


Rokan Hulu, 2 Juli 2019

Karya ©: M. Syari Faidar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OJO MENUO TANPO CERITO

Dunia itu luasssss Jenderal!  Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito".  Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...