Genangan kenangan itu kembali terkuak. Menyeruak di balik semak. Fokus mata menatap percikan riak. Lamunan melintas ruang. Menderu, melayang melintas kecipak kenangan. Ompang Sei Songsang menggelitik duniaku. Dunia masa kecil bersama sahabat kecil menari-nari tersenyum sambil melambaikan tangan. Puluhan tahun lalu, serpihan waktu itu masih terpampang jelas. Berenang, menangkap udang, bermain air, lomba bernafas paling lama di perut air yang bening. Terjun dari pohon yang menjulai di tepian sungai. Ompang Sei Songsang telah menggelitik duniaku, dunia masa kecilku.
Hari sudah sepenggalan. Matahari mulai menaikan kadar panasnya. Bersamamu kita menapak di titian kayu. Di sepanjang langkah terlihat ribuan enceng gondok menyapa kita. Mereka beraubade sambil meneriakan ucapan, 'Selamat datang di Ompang Sei Songsang wahai Sang Petualang". Aku dengar ucapan itu dihela nafasku. Sebagai mercusuar di lain waktu kita abadikan momen itu. Kita saling bergandengan tangan. Mengukir harapan dibalik tabir kehidupan. Menyongsong hari baru penuh pendar semangat anyar diderap langkah sisa waktu.
Tempat biasa tatkala disentuh oleh tangan penuh cinta akan menjadi surga berpendar asa. Aku lihat dan rasakan geliat itu pada hamparan semangatmu kawan. Teruslah ukir prestasi di balik negeri yang penuh misteri ini wahai pewaris negeri. Tanah peradaban harus diurus serius. Hingga mampu menggugah nurani yang beku dari geliat pariwisata berkemajuan. Pancangkan tekad membangun negeri pada puncak destinasi. Kibarkan bendera dan panji sambil menghirup sensasi kopi literasi. Saudaraku tak ada kekuatan tanpa kebersamaan. Biarkan tangan-tangan tak kelihatan merangkul dan menuntunmu merubah dunia.
(***)
Karya ©: M. Syari Faidar
Cerpen tiga paragraf (Pentigraf) ini sudah terbit di website Cakrawalaindonesia.id, Rabu, (6/1/2021).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar