Minggu, 04 Januari 2026

Mawar Putih di Mulut Gang


Karya ©: M. Syari Faidar


Ku petik dirimu.

Ku timang digenggaman.

Ku bawa melintas malam.

Malam purnama dipeluk keindahan.


Ini bukan cerita anggur atau rembulan.

Ini hikayat merajut serpihan berserakan di Lowanu Sorosutan.

Yang terkubur di ceruk selaksa kenangan.


Hari itu dua puluh tahun lalu dia meminta sekuntum edelweiss.

Bunga keabadian yang menari dibelai angin Puncak Sindoro.

Aku sanggupi.

Meskipun sekedar janji.


Di mulut gang dekat tikungan kulihat dirimu.

Putih bercahaya bersih.

Ku petik dirimu.

Ku timang di genggaman.

Ku bawa melintas malam.

Membawa bukti tunaikan janji untuk ditepati.


Aku serahkan dirimu kepadanya sambil berkata, "Mawar putih ini kupetik di gunung Sindoro."

"Di musim purnama edelweiss tak lagi berbunga," tegasku dalam dusta.


Dia tersenyum bahagia, aku jumawa.

Engkau diletakkan dalam gelas kaca.

Di iringi lantunan tembang syahdu Katon Bagaskara dari kotak musik dekat jendela.


Dalam diam hatiku bergumam, "maaf aku telah membohonginya."

Kode Etik petualang itu tak mungkin aku kangkangi.

"Jangan mengambil apapun kecuali gambar."

"Jangan meninggalkan apapun kecuali tapak kaki."

"Jangan membunuh apapun kecuali waktu."


***

Riau, 17 Oktober 2020

* Karya ini sudah terbit di media online Cakrawalaindonesia.id (17/10/2020)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OJO MENUO TANPO CERITO

Dunia itu luasssss Jenderal!  Oleh sebab itu, maka idealnya; "ojo menuo tanpo cerito".  Dah itu saja, mau nulis narasi panjang² ta...